KISAH ANAK RANTAU

 Selasa 30 Januari 2024, GBLA


 Hi... Perkenalkan nama ku Adi, asalaku Tasikmalaya, namun aku dibesarkan di Sumatra, aku lahir bulan Agustus tahun 1993. Ayah ku orang Cianjur, ibuku orang Tasikmalaya. Masa kanak-kanak ku tertanam di kampung Tasikmalaya bersama ibu, karena waktu itu ayah masih mencari sesuap nasi untuk kita. Hidup dikampung pedalaman tidak membuat ibu menyerah atas penderitaan yang ibu alami, sekian hari bulan dan tahun menunggu kedatangan ayah dari jauhnya merantau mencari nafkah untuk keluarga kecilku tetap gigih pantang menyerah. 
 Hingga suatu saat kami berpindah ke pulau Sumatra. Malam itu aku hanya seorang balita yang di bawa keluar kota. Sesampainya aku di Sumatra aku dikenalkan dengan keluarga dari ibu ada nenek, kakek dan paman-paman. Seiringnya waktu berjalan orang tuaku pun pergi merantau meninggal ku di kampung nenek. 
 Hari itu aku tak sadar bahwa ibu telah pergi diam-diam, sesadarku hanya mampu meneteskan air mata tanda sedih hati seorang anak yg telah di tinggal oleh orang tua ku. Namun seorang nenek telah memberiku nafas baru untuk melanjutkan alur dari awal cerita ku. Seibarat seekor lebah yang mencari ibunya, setiap hari aku merindukan hangatnya pelukan seorang ibu. Hanya nenek ku yang memberikan kehangatan sebagai seorang ibu kala itu. Kurtarik nafas mengikuti alur nya. 
  Masa itu tidak lah begitu mudah, cerita yang ku jalani sangatlah sebelah mata dari sudut orang memandang. Tiada rasa sayang, tiada rasa manja, tiada rasa ibu dan ayah. Layaknya seekor burung yang ditinggal menghilang oleh ibunya kedinginan, kepanasan, sakit, meratap memandang hitam putih nya awan. Dengan panasnya matahari yang memaksa aku berjuang untuk tumbuh dewasa dan bermimpi akan selalu bersama ibu dan ayah besar ku nanti, hal yang paling bahagia adalah ketika kerinduan terbalaskan dengan perjumpaan. 

Bersambung.....
Episode 01.

Rabu, 31 Januari 2024.. GBLA (bandung)

  Di temani irama nansyahdu, ku memulai kisah yang bersemayam dalam benakku. 
Setelah lamanya aku bersama nenek ku, kurang lebih 3 tahun lamanya. Akupun mendapatkan kesempatan untuk bersama keluarga ku, senang dan bahagia menyelimuti angan yang selama ini menjadi mimpi. 6 thn lamanya aku mengarungi keseharian bersama keluarga, namun terasa larutnya tersayat oleh waktu yang tak mungkin untuk mengulangi fenomena masa -masa itu. Hanya menyisakan kenangan berikut pengalaman yang menjadi bekal untuk memacu nyali ku dimasa depan. 
  Pada tahun 2017 aku hidup di pondok pesantren asshiddiqiyah 3 Karawang, 10 thn -+. Keberadaan ku disana. Menimba ilmu agama, sosial dan IPTEK. Bernafaskan islami berfikiran agamis membuat ku terasa ikhlas dan perserahan diri kepada sang pencipta begitu amat dalam, hingga aq memiliki sebuah kesimpulan dalam hidup. " Terkadang untuk apa aku mengalah demi berjuang merangkai tangga kehidupan. Hal ini membuat ku enggan berjuang terhadap dunia, pola dalam pemikiran ku hanya agama dan agama. Terbuai syahdunya kesendirian dalam sebuah kedamaian akupun terlupakan bahwa kehidupan itu bukan hanya masalah sebuah penghambatan semata, namun berjuang demi kelanjutan hidup pun adalah ibadah. Sempat ku mencintai seorang wanita yang bernamakan Nita ayu Nurul Ulfah, ibunya bernama Ulfah ayahnya bernama nur falah. 
  Kisah ini cinta ini berawal dari duduk di bangku yang sama dalam sebuah pendidikan, dalam diam aku selalu mengamati. Dalam kecantikan keindahan yang membuat ku menutup sejenak roh suci ku. Senyum yang begitu tulus, wajah yang menghantui, tutur ucap yang membuat ku gila. Membuat ku membatu sekeras ku ingin memilikinya. Pada suatu saat, aku mengajak dia berjalan berdua, sebagai modus ku untuk mendapatkan perhatiannya. Ketika itu aku mengungkapkan isi hati yg selama ini kupendam, Nita maukah kau menjadi istriku,.. namun iaa pun tidak langsung menjawab. Dia bermunajat kepada tuhan untuk sebuah keyakinan yang akan ia utarakan terhadap ku. 
  Seminggu kemudian aku mendapatkan jawaban darinya. Sujud syukur ku kepada sang kuasa alam ini, jawaban yang aku nantikan akhirnya memuai jua, cinta ini berlanjut bahagia hingga kami bersatu selayaknya sepasang kekasih yang selalu mesra baik suka maupun duka. Tiada kisah ukiran yang mampu menyamai, terbuai dalam asmara seakan dunia ini hanya ada kita berdua. 
  Di suatu hari setelah perjalanan yang begitu bahagia. Kami mendapatkan suatu kabar berita dari sang penulis naskah cinta kita, tiada angin, hujan, asap bermula keringnya air mata mengalir begitu rintih disertai suara yang sedikit menyayat hati. Rentah, pilu entah kemana dan pada siapa aku mengadu. Saat itu tuhan tidak memberikan jawaban atas doa-doa yang ku panjatkan, hasratku ingin selalu bersamanya seumur semati senafasku. Namun apalah kehendak sang pencipta naskah ini. Membuat kehilangan setengah dari rasa iman, jati diriku layaknya diri yg tak memiliki roh namun berjalan tampa arah, entah kemana dan untuk apa udara ini kuhirup lagi. Tenggelam dalam keputus asaan, ingin ku akhiri hidup ini, ingin kelepas perasaan yang menyatu dalam raga ini. Agar aku tak memiliki cinta dan tak ingin merasakan jatuh cinta. 
  Kabar itu adalah sebuah perceraian antara kita. Yang dipimpin oleh ibu mertua karena melihat ku sebelah mata, aku miskin aku tak memiliki sedikit pun dari duania ini. Namun rasa sayang ku tiada akan surut walaupun lautan kering sekalipun. Namun semua perjuangan pengorbanan itu tiada ternilai hiangga membuat membalikan sudut pandang terhadap segala hal. Rasa cinta yang tulus ini menjadi dendam yang membesar hari demi hari detik demi detik. Sampai matipun aku takkan akan melupakan semua penderitaan ini.
  Mengarungi kehidupan dengan kelamnya air mata yang menyelimuti malam malamku tiada banyangan dalam mimpi ku hanya dia dan dia. Namun kebencian telah menjadi baju raga ini, hampir saja aku gila dan tak memiliki akal sehat lagi. Terdengar dari seorang yang memiliki cerita yang diatas ku, diapun memberikan nasihat. Membangun kan hati yang tertidur dari sulit nya hidup. Akupun mencoba bangkit seperti layaknya anak balita mencoba untuk dewasa kembali. 
  Berpulang aku ke gubuk ku disebrang Lampung Selatan, lama ku disana. Mengarungi elok-eloknya drama hidup. Berjumpalah aku dengan seorang wanita, dan kumulai kehidupan bersamanya. Dengan lembaran yang baru dan mimpi yang baru. Namun seiring waktu berjalan, terasa adanya kejanggalan. Semakin hari dan semakin bertambah usia dan waktu kejanggalan itupun menghantui ku. Akupun tidak mengerti apakah lelaki itu kepala rumah tangga atau wanita itu kepala rumah tangga. Mengapa seolah aku yang dipimpin bukan aku yang memimpin. Seolah aku hanya kuda yang menghasilkan daging untuk di konsumsi oleh pemeliharanya. Sungguh aku tidak sanggup. 
  Lalu aku memutuskan untuk merantau mencoba mengepakkan sayap ku, demi istri dan anakku yang selalu aku rindu dan aku sayang. Walau kerinduan ini membuat ku sedikit rapuh namun aku tidak akan menyerah demi masa depan istri dan anakku. Walau tiap malamku merindukan kehangatan seorang istri dan hangatnya anakku, aku selalu bersabar. Dan keyakinan ku tetap gigih untuk mereka. Sabar lah sayang ku, aku kan pulang dengan membawa dunia yang aku janjikan. Jangan lah terlalu dini untuk menyerah, ayah disini Adah dihatimu. Dan untuk istri ku jangan terggelam dalam emosi mu, sabar dan sabar pesan yang selalu aku pesan untuk mu. Aku tidak akan pulang dalam keadaan apapun sebelum aku sukses. Ini semua untuk mu keluarga kecilku.

Bersambung..... 

Episode 02


  


Komentar